Plt. Bupati Sukirman Dorong Kopi Talun Tembus Pasar Lebih Luas

Keterangan Gambar : Plt Bupati Pekalongan Resmi Menutup Sekolah Lapang Iklim Kopi Robusta Berketahanan Iklim


Plt. Bupati Sukirman Dorong Kopi Talun Tembus Pasar Lebih Luas

KAJEN – Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan H. Sukirman, S.S., M.S. resmi menutup kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Kopi Robusta Berketahanan Iklim Pekalongan yang diikuti petani kopi dari Desa Jolotigo dan Sengare, Kecamatan Talun. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Pertemuan Muhammadiyah Talun, Rabu (2/9/2026).

Mengusung tema “Sinergi Ketahanan Iklim & Pemberdayaan Ekonomi”, program SLI bertujuan memperkuat kapasitas petani kopi dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem, meningkatkan produktivitas melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta membuka akses inklusi keuangan dan kemitraan pasar melalui skema closed loop.

Dalam kesempatan tersebut, Plt Bupati menyerahkan sertifikat kelulusan SLI Kopi secara simbolis kepada perwakilan petani pionir dari Desa Sengare dan Jolotigo. Selain itu, diserahkan pula Dokumen Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan Modul SLI dari Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA) kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan.

Plt. Bupati Sukirman dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Mercy Corps yang telah berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam mendorong pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok tani kopi. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga nonprofit, serta masyarakat menjadi penting di tengah keterbatasan fiskal yang dihadapi pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten. “Tentu kami mengucapkan terima kasih kepada Mercy Corps yang terus bersama-sama kita, bahkan telah melakukan MoU bersama Pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk pemberdayaan masyarakat ke depan,” ujar Sukirman.

Ia menilai Kabupaten Pekalongan memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, termasuk komoditas kopi. Namun, potensi tersebut masih perlu diperkuat, terutama dari sisi pemasaran dan pengenalan produk kopi Pekalongan kepada pasar yang lebih luas. Sukirman mencontohkan Kopi Petungkriyono yang dinilai memiliki daya saing, tetapi belum sepenuhnya dikenal oleh pelaku usaha seperti kafe dan restoran. “Yang harus kita benahi adalah pendampingan dari sisi penetrasi pemasaran. Kita perlu menyosialisasikan bahwa Pekalongan ini kopinya juga bisa diandalkan,” katanya.

Ia berharap hasil pembelajaran dari Sekolah Lapang Iklim tidak berhenti pada teori, tetapi dapat diterapkan secara langsung oleh para petani. Pengetahuan mengenai iklim, waktu tanam, pemeliharaan hingga masa panen diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi. “Bekal yang sudah didapat dari sekolah ini kita praktikkan bersama di lapangan. Dengan adaptasi dan penyesuaian keadaan, saya yakin teori-teori itu bisa dimaksimalkan dalam pengembangan budidaya kopi,” tutur Sukirman.

Selain peningkatan produksi dan pemasaran, Sukirman juga menekankan pentingnya regenerasi petani. Menurutnya, generasi muda perlu dikenalkan dengan budidaya kopi agar komoditas tersebut dapat terus menjadi sumber perekonomian masyarakat Talun secara berkelanjutan. “Selain anak-anak kita harus kita dorong mengenyam pendidikan yang tinggi, pengenalan terhadap budidaya kopi ini menjadi satu kewajiban kita bersama agar kesinambungan pemberdayaan kopi di Kecamatan Talun bisa terus terjaga dengan baik,” jelasnya.

Sementara itu, perwakilan Mercy Corps, Arif Ganda Purnamawa, mengatakan program Zurich Climate Resilience Alliance yang dijalankan di Kabupaten Pekalongan diarahkan untuk membangun ketahanan iklim sekaligus memperkuat mata pencaharian masyarakat. 

Menurut Arif, Sekolah Lapang Iklim tidak hanya memberikan edukasi kepada petani, tetapi juga berupaya menghubungkan komoditas kopi dengan pasar, data iklim, praktik pertanian yang baik, hingga perlindungan risiko finansial. “Kami sedang berupaya bagaimana caranya supaya kopi ini bisa terkoneksi dengan pasar yang lebih besar. Kemudian bagaimana kopi ini bisa punya jejaring pengaman dan praktik pertaniannya menerapkan good agricultural practice,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, program tersebut juga mengintegrasikan data iklim sehingga petani dapat memperoleh informasi mengenai potensi kekeringan maupun curah hujan ekstrem sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan pertanian. “Kami harapkan ini bukan akhir dari sebuah proses, melainkan ini awal. Kita akan menginisiasi bagaimana pasar itu kita ekspansi dan skema-skema finansial yang akan kita kembangkan juga dapat diterapkan,” katanya.

Camat Talun Argo Yudha Ismoyo, S.STP., M.A.P. menyambut baik pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim tersebut. Ia menilai program itu tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga diharapkan mampu mengubah pola pikir petani dalam menentukan waktu panen.

Argo menyebut Kecamatan Talun memiliki beragam hasil pertanian. Namun, persoalan utama yang masih dihadapi adalah akses pasar kepada konsumen. “Hasil bumi Talun itu semua punya, Pak. Pisang, kopi, durian, alpukat, semua ada. Sayangnya enggak punya pasar. Jadi orang tidak tahu kalau barangnya dari Talun,” ujarnya. 

Kegiatan penutupan SLI Kopi Robusta tersebut juga dirangkaikan dengan talkshow interaktif dan review hasil SLI bertema “Transformasi Iklim & Ekosistem Kopi Pekalongan yang Berketahanan serta Berdaya Saing Pasar”.

Talkshow menghadirkan perwakilan BMKG, alumni SLI, Dinas Koperasi UKM dan Naker Kabupaten Pekalongan, Zurich Insurance Syariah, serta offtaker PT Oikos. Para peserta membahas pemanfaatan data cuaca, kalender tanam, penerapan praktik pertanian yang baik, perlindungan finansial berbasis indeks cuaca, hingga standar mutu green bean dan kemitraan pasar.

Kegiatan dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesra sekaligus Plt. Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Naker Kabupaten Pekalongan Siti Masruroh, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, perwakilan Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia, perwakilan Bank, serta para petani dan pelaku usaha kopi.*Tim Prokompim Setda Kab Pekalongan